Artikel saya yang berjudul "Masalah Epistemologi Sejarah dalam Hubungan Melayu-Utsmaniyah-Dunia" diterbitkan sebagai sebuah bab dalam Timur Tengah dan Dunia Melayu: Isu-isu Kontemporer dan Tantangan Masa Depan(ed.), Muna H. Bilgrami, Abdolreza Alami, Kuala Lumpur, (2023).

https://www.gerakbudaya.com/product/the-middle-east-and-the-malay-world

Abstrak:

Makalah ini menantang epistemologi historis hubungan antara Utsmaniyah dan Dunia Melayu, yang dimulai pada abad ke-16.th abad. Intensitas yang signifikan dari studi akademis dipicu oleh peristiwa bencana tsunami yang melanda Samudra Hindia pada tahun 2004. Bencana 'alam' tersebut menarik inisiatif kemanusiaan dari pemerintah/semi-pemerintah dan organisasi-organisasi sipil Turki, dan juga para akademisi untuk menemukan kembali interaksi historis sebelumnya. Cukup menarik bahwa usaha-usaha untuk menghidupkan kembali hubungan masa lalu tersebut bertepatan dengan inisiasi pandangan dunia Ottoman oleh beberapa kalangan di Turki. Selain itu, pendekatan ini, yang dapat dinamakan 'pembaharuan', agak berkaitan, secara reaksioner, dengan sikap epistemologi sejarah Republik awal juga. Alih-alih mengembangkan epistemologi sejarah melalui pendekatan rasional dan kritis, yang menekankan pada cakupan hubungan yang beragam dengan mempertimbangkan berbagai aktor untuk memahami hubungan masa lalu, sikap akademis (Turki) baru-baru ini secara implisit menunjukkan kecenderungan tertentu untuk menarasikan hubungan tersebut dengan batasan dikotomi superioritas-inferioritas, dan dominasi berbasis kekuasaan sepihak. Namun, isu yang terakhir ini dipandang problematis. Karena kajian-kajian di bidang sejarah memiliki kelemahan metodologis yang eksplisit, maka usaha-usaha untuk memahami hubungan masa lalu dengan dunia Melayu tidak membuahkan hasil yang kuat. Argumennya adalah bahwa kelemahan dalam upaya kontemporer untuk memahami dan merestrukturisasi hubungan masa lalu bisa jadi berakar pada masa lalu itu sendiri. Oleh karena itu, pertanyaan apakah Utsmaniyah telah mengembangkan kebijakan berbasis epistemologi untuk terlibat dengan dunia Melayu secara umum, yang dimulai pada awal abad ke-16, menjadi pertanyaan yang menarik untuk dikaji.th abad ke-21, harus diteliti. Meskipun makalah ini dimaksudkan sebagai kelanjutan dari bab buku yang ditulis oleh penulis saat ini, makalah ini masih dianggap sebagai diskusi awal. Tulisan ini mencoba untuk menerapkan perspektif analitis untuk mencapai inti permasalahan. Upaya ini diyakini dapat memberikan saran-saran untuk pemahaman yang lebih baik mengenai kelemahan epistemologis dan metodologis yang sudah mapan di kalangan akademisi yang telah terjun ke dalam rekonstruksi hubungan Utsmaniyah dan Melayu.

English and Indonesian versions translated with DeepL AI

TINGGALKAN BALASAN