Mehmet Özay – Faisal Rıza                                                                                       25 Mei 2026

Diskusi tentang adat dan budaya adalah tema yang tak pernah berakhir. Memang penting untuk menunjukkan signifikansi kedua tema tersebut. Tengku Luckman Sinar, antara lain, berbagi ide-idenya melalui proses panjang pencarian, analisis, pemikiran, dan produksi sepanjang hidupnya. Kita akan mencoba membahas cakupan diskusinya secara ringkas dalam artikel singkat ini.

Sinar adalah tokoh terkemuka yang tumbuh di komunitas Melayu. Ia mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari dan menghidupkan kembali budaya Melayu. Inspirasinya berasal dari komunitas Melayu di Sumatera Utara sebagai mikrosistem dan masyarakat Melayu di kepulauan itu sebagai makrosistem.

Tulisan-tulisan ini akan mengeksplorasi kontribusi Sinar pada kebangkitan budaya Melayu di Sumatera Utara. Karya biografinya yang ditulis oleh Tengku Mira menegaskan posisinya sebagai “tokoh intelektual Melayu” dan menghubungkannya dengan peristiwa-peristiwa di dunia Melayu yang lebih luas.

Sinar mulai mempelajari budaya Melayu dari keluarganya. Ia bertekad menghidupkan kembali tradisi yang dilupakan, baik karena politik maupun perubahan zaman seperti modernitas.

Tidaklah salah jika dikatakan bahwa ia mulai terlibat dalam studi budaya melalui urusan keluarganya. Dengan kata lain, ia memulai di tingkat dasar. Selama studinya, minatnya berkembang menjadi kegiatan akademis. Upaya konstruktif dari beberapa anggota senior istana terdahulu membentuk karakteristik Sinar. Pengetahuannya yang terakumulasi tentang leluhurnya tidak dapat disangkal, sebagaimana dinyatakan oleh keturunannya selama wawancara kami. Proses ini adalah pembelajaran internal dinamika budaya. Ini mencakup struktur fisik dan administratif kesultanan terdahulu serta sistem nilainya yang dibentuk oleh budaya dan adat Melayu. Fase di atas adalah proses pembelajaran tradisional dan otentik.

Pertemuan Modern

Sinar punya latar belakang intelektual yang kuat. Tantangan yang ia hadapi signifikan: kolonialisme, tradisi yang dilupakan, modernitas, dan pengaruh negara-bangsa yang memengaruhi seluruh aspek budaya dan kehidupan tradisional.

Usulan budayanya muncul dari pengamatan dan evaluasi terhadap pertemuan modern, khususnya masa lalu kolonial dan negara-bangsa. Kedua bentuk modernitas ini tidak berhasil menyatukan masyarakat dengan latar budaya yang beragam; selain itu, mereka gagal menciptakan nilai-nilai modern baru yang berkelanjutan, sekaligus mencoba menghapus nilai-nilai mapan yang penting bagi kelangsungan hidup setiap kelompok etnis.

Sinar menekankan bahwa modernisasi menyebabkan perubahan sosial yang merugikan filsafat adat kelompok etnis di Sumatera Utara. Adat istiadat merupakan filsafat kelompok yang memediasi antara publik dan makna filsafat yang hilang. Sinar terus berupaya mensosialisasikan adat beserta dimensi filosofisnya. Gagasan-gagasannya mencerminkan perubahan sosial-politik. Ia ingin menghidupkan kembali filsafat masyarakat lewat sosialisasi. Dalam hal ini, Sinar bisa dilihat sebagai orang yang menjaga kesenian lama, seperti musik, tari, dan sebagainya. Ini pernah dijelaskan Claire Holt tentang budaya Indonesia tahun 1960-an. Tapi ini bukan berarti Sinar sangat konservatif.

Menariknya, di sini terlihat adanya dikotomi antara negara-bangsa sebagai fenomena modernitas dan filsafat adat yang sering diabaikan atau ditentang negara-bangsa. Negara-bangsa disarankan sebagai wadah untuk mempraktikkan persatuan, sementara kebangkitan kembali filsafat adat diusulkan sebagai cara memperkaya dinamika internalnya. Dengan demikian, penafsiran ulang negara-bangsa modern melibatkan integrasi nilai-nilai lokal ke dalam kerangka kebangsaan. Jembatan antara negara-bangsa dan nilai-nilai lokal ini diwujudkan dalam sikap filosofis masyarakat. Kami meyakini sudut pandang ini memerlukan elaborasi lebih lanjut dan berencana membahasnya dalam tulisan kami berikutnya.

Sinar adalah pemikir realis yang mempertimbangkan berbagai aspek politik dan budaya di Sumatera Utara dan Indonesia. Dengan menerapkan konsep modus vivendi, ia mengarahkan ide-idenya untuk menghindari konflik dengan elemen masyarakat.

Pada tahap ini, kontribusi Sinar terhadap studi budaya adalah upaya menutup kesenjangan intelektual yang timbul dari faktor politik dan sosial di seluruh negara-bangsa selama paruh kedua abad ke-20. Upayanya di bidang teoretis dan praktis untuk menghilangkan kebingungan masyarakat awam, termasuk anggota lembaga adat. Beliau adalah bijak Melayu yang menghabiskan hidup mengembangkan pemahaman tentang bahasa Melayu dan unsur-unsurnya melalui studi dan pengalaman pribadi.

Keterlibatannya dalam isu budaya membuatnya dianggap multidimensi. Sejarah dan budaya adalah dua bidang utama yang difokuskan, seperti dinyatakan oleh beberapa penulis lain. Ia juga mempelajari etnografi, antropologi, dan sosiologi. Perspektif multidisiplin ini adalah usahanya untuk mencapai kesatuan pemahaman yang lebih luas, yang kita sebut Weltanschauung Melayu. Weltanschauung ini tampaknya hilang akibat peristiwa masa lalu. Jika menganalisis upaya intelektualnya, ia berusaha menarik garis batas yang jelas dari Weltanschauung Melayu.

Sinar ingin menghidupkan kembali adat dan budaya Melayu tanpa mengabaikan negara-bangsa. Meski bukan ilmuwan politik, Sinar tetap menyoroti pentingnya politik etnis dalam diskusi tentang pembangunan negara-bangsa Indonesia.

Warisan intelektual

Sinar menyarankan agar adat menjadi sistem yang dapat beradaptasi tanpa kehilangan inti nilai dan elemen. Ia menyadari adat melemah akibat modernisasi. Tesisnya membantah teori-teori yang menyalahkan adat atas kemerosotan masyarakat Melayu.

Kami berpendapat bahwa masyarakat Melayu Sumatera Utara kesulitan beradaptasi dengan kolonialisme dan negara-bangsa sebagai unsur Barat yang dianggap perluasan modernitas. Kesulitan ini khususnya terkait dengan kerapuhan elemen yang dulu berperan sebagai perekat sosial. Pemikiran Sinar mengenai pemulihan budaya Melayu tidak bersifat individual, namun muncul dari penilaiannya terhadap kebingungan masyarakat. Karena itu, ia aktif mendirikan dan berpartisipasi dalam lembaga-lembaga yang bertujuan mengatasi masalah tersebut lewat keterlibatan masyarakat luas.

Unsur kunci dalam aktivitas akademis dan intelektualnya adalah ‘sistem adat Melayu’. Dapat ditegaskan bahwa usulannya tidak bertujuan untuk membangun sistem adat Melayu yang berbeda di antara berbagai komunitas di Dunia Melayu; melainkan, ia berupaya membangun tipe ideal sistem adat Melayu, yang menurut kami selaras dengan pengertian Weberian. Dalam pengertian ini, sistem adat Melayu dalam pemikiran Sinar bukanlah bentuk standardisasi. Melainkan, ia merupakan alat metodologis untuk memahami pokok bahasan.

Warisan intelektual Sinar adalah tentang warisan yang ia peroleh dan sebarkan melalui karya dan ceramahnya. Ia berharap warisan tersebut dapat dihidupkan kembali dari akarnya dengan semangat baru.

Karya-karyanya tampak sebagai pencarian dimensi internal komunitas Melayu, dimulai di Sumatera Utara dan berfokus pada latar budaya mereka, yang digambarkan sebagai ‘adat dan kebudayaan’ di seluruh wilayah tersebut.

Ia berupaya agar ‘keadilan budaya’ dipikirkan ulang dan dihidupkan kembali karena berbagai proses yang berubah-ubah telah menyebabkan degradasi, baik disengaja maupun tidak disengaja. Apa yang telah dilakukannya membuatnya disebut sebagai ‘reformis budaya’ atau ‘pembangkit budaya’.

Ia merasa upaya untuk menghidupkan kembali budaya ini dilakukan karena variabel-variabel yang penting bagi keberadaan budaya itu sendiri dan bagi perkembangan masyarakat yang sehat. Variabel-variabel ini dapat diurutkan, sebagai saran, dari kehilangan identitas hingga mencapai konsensus dengan lingkaran kekuasaan kontemporer yang memiliki arahan tertentu untuk lingkungan budaya saat ini.

https://epaper.waspada.co.id

Waspada, 25 Mei 2026, (Senin), Opini, A5

English and Indonesian versions translated with DeepL AI

LEAVE A REPLY